oleh

Cara Meningkatkan Kecerdasan Untuk Hidup Yang Lebih Baik: Bag 1

Balikpapanku.id – Pernah mendengar istilah kalau meningkatkan kecerdasan itu bisa dengan  latihan? banyak orang yg beranggapan, kalau kecerdasan terutama kecerdasan emosional itu  bisa dibentuk serta dilatih dengan skill dan keterampilan.

Anggapan tersebut ga ada salahnya, meskipun ada hal yang lebih mendalam tentang kecerdasan emosional yang seringkali terlewatkan. Karena meningkatkan kecerdasan emosional itu sebenarnya lebih ke apa yang sedikit kalian lakukan, bukan yang lebih banyak kalian lakukan.

Seorang psikolog bernama Nick Wignall membagi ciri-ciri orang orang yang terlihat memiliki kecerdasan emosional padahal mereka kekurangan hal tersebut, antara lain:

Mereka seringkali menyalahkan orang lain atas masalah yang mereka timbulkan sendiri.

Sadomasokis dalam artian mereka dengan sengaja memperangkap diri sendiri dalam siklus hidup yang bikin stress,  penuh kecemasan dan depresi.

Bahkan menyabotase diri mereka sendiri bahkan setelah mereka mendapatkan kemajuan dan pencapaian dalam hidup.

Dan menurut banyak sumber, sebenarnya banyak orang yang mempunyai kapasitas berlebih untuk mencapai kecerdasan emosional yang tinggi, bahkan kalau boleh dibilang hampir semua orang memiliki hal tersebut.

Namun yang disayangkan adalah, banyak sekali orang yang harusnya bisa meningkatkan kecerdasan emosional tersebut akan tetapi seringkali terkendala oleh kebiasaan buruk yang dibangun mereka dan disadari ataupun tidak.

Oleh karena itu, jika memang kalian ingin meningkatkan kecerdasan emosional tanpa harus setara biksu atau apapun itu, cobalah untuk pelan-pelan memilah apa saja kebiasaan hidup anda yang secara langsung maupun tidak langsung menghalangi proses tersebut.

 

meningkatkan kecerdasan
sumber: transform-mpi

 

1. Kurangi Mengkritik

 

Disadari atau enggak, budaya kritik itu sebenarnya bagian dari mekanisme bawah sadar kita untuk membentengi diri dari rasa tidak nyaman, baik jawaban, pertanyaan maupun sikap. Walaupun pada dasarnya sifat kritis itu sangat bagus karena membuat kita bisa memilah hal-hal disekitar kita mana yang buruk maupun tidak.

Baca :  Tingkah Unik Orang-Orang Melindungi Diri Dari Corona

Namun bisa jadi bumerang ketika terbiasa kritis palagi ke orang lain itu seringkali bisa berujung ke hal buruk. Karena bisa membuat kalian tidak bersikap obyektif yang berakhir suka berpikiran sempit ataupun suka mencari gaung yang senada alias echo chamber.

Karena disadari maupun tidak, mengkritik itu bisa menunjukan superioritas kita, misalnya: Ketika anda mengkritik orang lain tersebut melakukan tindakan bodoh, secara tidak langsung itu menunjukan kalau anda lebih pintar. Menyenangkan memang, biarpun menyakitkan buat orang lain. Atau misalnya lagi saat anda mengejek selera berpakaian orang, secara tidak langsung kalian menepuk dada sendiri seraya berkata: “selera gue keren, emang elo? selera jadul?”

Percayalah, kritik yang bermanfaat itu adalah kritik yang membangun, bukan kritik yang mengubur. Kritik yang bisa membuat anda dan orang lain menjadi sosok yang lebih baik baik dalam sikap maupun perbuatan.

Karena dengan bersikap kritis seperti diatas hanya akan membuat anda superior secara temporer, karena itu juga secara ga langsung memperburuk diri kalian. Sedangkan masih banyak sifat dan perbuatan lain yang bisa meningkatkan diri kalian.

 

Everyone is critical of the flaws of other, but blind to their own.

 

2. Jangan Terlalu Banyak Kuatir Supaya Meningkatkan Kecerdasan Emosional

 

Percaya atau tidak, terlalu banyak kuatir itu hanya memperburuk tingkat emosional anda. Karena pada dasarnya kalian ini hidup dalam ketidakpastian akan masa depan. Memang tidak salah, karena semua orang pasti menginginkan hidup yang tertata rapi, masa depan yang pasti (sesuai keinginan kita) dan tentunya hidup yang lebih baik. Namun pepatah jawa mengatakan narimo ing pandum (menerima segala pemberian apa adanya tanpa menuntut yang lebih dari itu).

Coba lihat, banyak orang tua jaman dahulu yang kalo dipikir-pikir jarang sekali kuatir berlebihan. Bukan mereka tidak takut atau tidak peduli dengan masa depan, namun mereka lebih menerapkan filsafat jawa wang sinawang (persoalan bagaimana seseorang memandang/melihat sebuah kehidupan).

Karena emang sangat besar perbedaan antara kuatir untuk hal yang mendasar dan pasti dengan terlalu kuatir dengan segala sesuatu, meyakinkan diri untuk mengambil tindakan menguasai perasaan tersebut dan berakhir menipu diri sendiri bahwa kalian bisa. Terlalu kuatir itulah yang berbahaya, karena mereka yang mengidap penyakit mental tersebut selalu kuatir akan segala hal dan malah menjadi takut akan masa depan yang tidak pasti seandainya meraka tidak mengambil langkah A (misalnya), dan malah kepikiran hal tersebut terus menerus. Dan lupa hakikat utama manusia untuk hidup.

Baca :  Ternyata Ini Alasan Orang Membuat Akun Palsu Di Sosial Media

Karena, bukan berarti kalian memikirkan hal tersebut terus bisa lebih produktif, seringnya malah sebaliknya. Dan hanya karena anda terus menerus menyiapkan bermacam-macam skema untuk menanggulangi kekuatiran akan masadepan tersebut, anda bisa lantas mampu mengatasinya, kadang cuma berakhir kalian merasa siap doang, padahal entah.

 

Termasuk kuatir anda terlalu banyak membaca tulisan ini, dan berakibat tingkat produktifitas untuk hal-hal lain anda berkurang. Jadi kami akan memberi lanjutannya pada tulisan berikutnya. ehe 🙂

 

 

Komentar