by

BPOM Larang Penggunaan Albothyl Karena Mengandung POLICRESULEN

Tepat kemarin (14/02/18) Surat edaran mengenai larangan penggunaan abothyl untuk sementara yang diproduksi oleh PT. Pharos Indonesia menyebar begitu cepat. Kandungan di dalam abothyl PT. Pharos Indonesia tersebut mengandung 36% POLICRESULEN dimana lebih besar resiko dibanding manfaatnya.

Isu mengenai larangan penggunaan POLICRESULEN pada sebuah product yang digunakan pada sariawan sebenarnya sudah mulai mencuat pada awal tahun 2014 kemarin. Beberapa dokter yang tergabung dalam PDGI sendiri sebenarnya sudah melarang penggunaan Abothyl pada sariawan. Ketua PDGI, drg Hananto Seno menyebut policresulen 26 persen saja bisa memicu iritasi walaupun penggunaannya pada sariawan bisa meredakan rasa nyeri untuk sementara. ( detik )

Drg. Widya Apsari yang merupakan dokter gigi dan specialis penyakit mulut di Indonesia mengatakan bahwa Sampai pada saat ini saya menuliskan artikel ini, saya belum menemukan jurnal yang membahas mengenai penggunaan POLICRESULEN untuk mengobati sariawan pada rongga mulut. Bahkan saya pun tidak bisa menemukan jurnal uji praklinik dan uji klinik POLICRESULEN pada rongga mulut untuk mengobati sariawan. (sumber)

Berikut surat larangan BPOM menggunakan Abothyl

surat larangan BPOM abothyl

Berikut adalah kesimpulan yang dikumpulkan oleh Dr. Widya Apsari dari berbagai jurnal yang membahas mekanisme policresulen, ketika policresulen ini diberikan pada bagian rongga mulut (sariawan), maka yang terjadi adalah:

  • Terjadi efek vasokonstriksi atau penyempitan pembuluh darah perifer (tepi) pada daerah sariawan, yang menyebabkan suplai darah pada daerah sariawan terhenti yang menyebabkan jaringan sariawan menjadi mati. Hal ini menjelaskan mengapa rasa perih pada sariawan sesaat hilang setelah sariawan diberikan policresulen baik secara ditotol amupun dikumur, yaitu karena jaringan sariawan menjadi mati, kalau mati ya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
  • Bila suatu jaringan mati, makan secara otomatis tubuh akan berusaha melepaskan jaringan yang mati tersebut, sehingga terjadinya suatu deskuamasi jaringan, atau pengelupasan kulit. Efek ini lebih sering terlihat pada penggunaan policresulen dengan cara kumur. Sesaat setelah dikumur, akan tampak terjadinya kulit mulut yang terkelupas.
  • Setelah jaringan sariawan mati, tidak sakit, dan terjadi pengelupasan, maka yang selanjutnya terjadi pembentukan jaringan baru dan sehat.
  • Bila jaringan baru sudah terbentuk, maka kisah sakit sariawan telah berakhir dengan indah dengan POLICRESULEN.

Fakta mengenai Penyembuhan Sariawan dengan POLICRESULEN.

Fakta 1. Ternyata gak ada jurnal kedokteran yg membahas meneliti policresulen buat didlm mulut
Fakta 2. Polikresulen itu kerjanya mematikan sel2 dg cara penyempitan pembuluh darah kapiler > sel gk dpt suply darah> sel mati
Fakta 3. Yg nyembuhin sariawan itu bkn polikresulen. Tp badan lo sendiri yg nyembuhin.
Fakta 4.  Ketika badan kita gak mampu memperbaiki jaringan yang mati . Akibatnya luka gak sembuh. Infeksi menyebar. dan bisa menyebabkan kematian.

penggunaan POLOCRESULEN secara terus menerus
dokumentasi Drg. Widya Apsari

Penjelasan Drg. Widya Apsari :

  • Gambar atas: adanya luka sariawan yang dalam akibat penggunaan POLOCRESULEN dengan cara ditotol secara terus-menerus.
  • Gambar bawah : adanya daerah berwarna putih yang menunjukkan terjadinya deskuamasi jaringan dan disertai dengan luka dalam pada lipatan pipi pada gambar kiri bawah, akibat penggunaan POLICRESULEN dengan cara dikumur dan ditetes secara terus-menerus

News Feed